Kembali

Ketika Seragam Abu-abu Bertransformasi Jadi Karnaval Nusantara

19-06-2025

Created By admin100


Pagi itu, SMAN 100 Jakarta seperti ditelan portal waktu. Koridor yang biasanya dipenuhi seragam abu-abu kini berubah menjadi galeri budaya hidup. Suara gamelan menggema dari lapangan upacara, menggantikan lagu Indonesia Raya yang biasa berkumandang.

Upacara yang Tak Biasa

"Siap... gerak!"

Komando Pembina Upacara bergema, tapi yang berbaris bukan lagi barisan seragam monoton. Kepala sekolah berdiri gagah dengan pakaian Kebaya lengkap dengan atribut di pakaiannya, sementara para guru tampil memukau dalam balutan kebaya Jawa, ulos Batak, hingga baju bodo Makassar. Siswa-siswi? Mereka seperti delegasi dari seluruh penjuru Nusantara dari Sabang sampai Merauke hadir dalam satu lapangan.

Bu Grace, guru sejarah yang biasanya menggunakan seragam dinas, hari ini tampil beda dengan pakaian ulos adat Batak yang membuatnya terlihat menjaga warisan budaya Batak yang akan nilai-nilai luhur. "Hari ini," katanya dalam pidato yang menggelitik, "kita semua adalah Kartini pejuang yang berani tampil beda!"

Usai upacara, ajaib terjadi. Koridor sekolah berubah menjadi catwalk dadakan. Khansa dari kelas XI F 3 dengan percaya diri memamerkan kebaya kuning keemasan sembari menjelaskan filosofi warna dalam budaya Jawa kepada teman-temannya yang terpesona.

"Kuning itu simbol keagungan," ujarnya sambil berputar, membuat rok kebayanya mengembang seperti bunga matahari.

Di pojok lain, Jumadi malah jadi pusat perhatian guru-guru dengan pakaian adat Sulawesi lengkap dengan jas yang dipadukan dengan celana dan sarung dan dilengkapi songkok recca khas Bugis. "Saya bangga jadi anak Sulawesi," serunya sambil menari, hingga membuat seluruh kelas bersorak.

Bu Susan, guru bahasa Indonesia, tak mau kalah. Dengan setelan baju kurung Melayu warna hijau tosca, beliau berjalan anggun sambil membawa kipas. "Kalian tahu tidak," katanya kepada siswa-siswi yang mengerumuni, "Kartini juga suka menulis surat dengan bahasa yang indah seperti ini."

Tentu saja ada drama kecil. Amelia dari kelas X hampir menangis karena kebayanya kebesaran warisan nenek yang ternyata belum pas di badan. Tapi solidaritas perempuan bekerja. Kakak kelas dengan sigap membantu menyematkan jarum pentul di sana-sini, bahkan guru tata busana ikut turun tangan dengan jarum dan benang.

"Nah, sekarang pas!" seru Bu Inday sambil menepuk bahu Amelia. "Kartini pasti bangga melihat kita saling membantu seperti ini."

Yang paling heboh? Corner foto dengan backdrop bertuliskan "Balika"  yang dihias bunga melati dan ornamen tradisional. Antrean foto lebih panjang dari antrean kantin saat istirahat!

Setiap klik kamera mengabadikan momen berharga mulai dari pose serius ala pejuang emansipasi hingga gaya kekinian dengan V-sign dan duck face. 

Sore hari, saat semua mulai kelelahan, Ibu Kepala Sekolah mengumpulkan seluruh warga sekolah di lapangan. "Hari ini," katanya dengan suara yang bergetar karena terharu, "kalian semua telah membuktikan bahwa keberagaman adalah kekuatan kita. Kartini berjuang dengan pena, kalian berjuang dengan karya dan kreativitas."

Tepuk tangan meriah pecah. Matahari sore menyinari wajah-wajah yang berseri, masih dengan riasan tradisional yang sedikit luntur karena keringat dan tawa.

"Sampai ketemu tahun depan!" teriak seorang siswa. "Tahun depan saya mau pakai baju adat Dayak!"

Keesokan harinya, SMAN 100 kembali normal dengan seragam abu-abu. Tapi ada yang berbeda di mata setiap siswa dan guru masih tersimpan memori indah tentang bagaimana perbedaan bisa menjadi harmoni yang sempurna.

Dan yang paling penting, mereka paham bahwa menjadi Kartini masa kini bukan hanya soal pakaian tradisional, tapi tentang keberanian untuk tampil autentik, menghargai perbedaan, dan terus berjuang mewujudkan mimpi persis seperti yang dilakukan sang pejuang emansipasi lebih dari seabad yang lalu.

Kartini tidak pernah mati. Dia hidup dalam setiap generasi yang berani bermimpi dan bertindak.